Banyak orang mengira biaya operasional lift rumah akan cukup besar karena digunakan setiap hari. Padahal, biaya yang dikeluarkan setelah lift mulai beroperasi tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi listrik, tetapi juga jenis sistem penggerak, kebutuhan perawatan, hingga potensi penggantian komponen dalam jangka panjang.
Agar memiliki gambaran yang lebih jelas, berikut simulasi biaya listrik lift rumah sekaligus perbandingannya dengan lift konvensional dari sisi operasional dan perawatan.
Simulasi Perhitungan Biaya Listrik Lift Rumah
Biaya listrik lift rumah dapat dihitung dari perkiraan frekuensi pemakaian setiap hari. Setelah diketahui berapa lama lift digunakan dalam setahun, konsumsi listriknya bisa diperkirakan untuk mendapatkan estimasi biaya operasional per bulan maupun per tahun.
1. Estimasi Jam Pemakaian Lift per Tahun
Sebagai gambaran, rata-rata rumah tangga menggunakan lift sekitar 16 perjalanan per hari, dengan durasi rata-rata 40 detik tiap perjalanan.
Jika dihitung, 16 perjalanan dikali 365 hari dikali 40 detik, lalu dibagi 3.600 detik (satu jam), hasilnya sekitar 65 jam pemakaian aktif lift dalam setahun. Di luar 65 jam inilah lift dalam kondisi standby dan nyaris tidak mengonsumsi listrik yang signifikan.
2. Konsumsi Daya Motor Lift
Motor screw-drive generasi terbaru yang efisien biasanya mengonsumsi daya sekitar 2,9 kW per jam pemakaian aktif. Angka ini kemudian dikalikan dengan tarif listrik PLN per kWh sesuai golongan daya rumah masing-masing.
3. Estimasi Total Biaya per Tahun dan per Bulan
Dengan tarif listrik golongan R2 di Jakarta sekitar Rp 1.699 per kWh (data September 2024), hasil perhitungan 65 jam dikali Rp 1.699 dikali 2,9 kW menghasilkan angka sekitar Rp 320.000 per tahun.
Kalau dibagi 12 bulan, angka ini setara sekitar Rp 27.000 per bulan untuk biaya listrik lift rumah per bulan. Perlu diingat, ini hanya estimasi karena tarif listrik bisa berbeda tergantung wilayah dan golongan daya masing-masing rumah.
Kenapa Biaya Listrik Lift Rumah Screw-Drive Jauh Lebih Hemat?

Salah satu cara paling efektif untuk hemat listrik lift rumah adalah memilih sistem yang hanya menyala saat benar-benar digunakan, berbeda dengan alat seperti eskalator yang menyala terus menerus sepanjang hari.
Motor brushless atau PMSM (Motor Sinkron Magnet Permanen) yang dipakai pada model premium juga jauh lebih efisien dibanding motor tradisional berjenis brushed, karena tidak ada gesekan fisik pada poros yang memutar kabin.
Lift screw-drive juga tidak memerlukan ruang mesin tambahan yang biasanya butuh pendingin atau AC khusus, sehingga konsumsi listrik keseluruhan sistem menjadi lebih rendah.
Perbandingan Biaya Operasional: Lift Rumah Screw-Drive vs Lift Konvensional (Traksi/Hidrolik)
Selain konsumsi listrik, perbedaan biaya operasional juga dipengaruhi oleh sistem penggerak yang digunakan. Lift rumah screw-drive dan lift konvensional seperti traksi maupun hidrolik memiliki kebutuhan perawatan, usia komponen, hingga potensi biaya perbaikan yang berbeda sehingga total biaya jangka panjangnya pun tidak sama.
Dari sisi frekuensi perawatan, lift screw-drive umumnya hanya membutuhkan servis rutin 1-2 kali per tahun karena komponen bergeraknya sedikit. Sebagai perbandingan, lift traksi atau belt-drive bisa membutuhkan perawatan 4-6 kali per tahun karena banyak komponen bergerak, terutama pada bagian pintu geser.
Lift traksi juga cenderung membutuhkan modernisasi menyeluruh setelah 8-10 tahun pemakaian, karena komponen seperti motor dan sistem kontrolnya sudah usang dan mahal untuk diperbaiki. Sebaliknya, lift screw-drive biasanya diberi garansi 10-15 tahun dengan masa pakai yang bisa mencapai 30 tahun, sehingga minim kebutuhan modernisasi besar.
Risiko biaya tak terduga juga berbeda. Lift hidrolik memiliki potensi mengalami kebocoran oli yang dapat menimbulkan biaya perbaikan cukup tinggi. Sementara itu, lift dengan sistem belt-drive memerlukan penggantian sabuk penggerak sekitar setiap 15 tahun, yang termasuk salah satu komponen dengan biaya penggantian paling besar.
Apa Saja Komponen Biaya Operasional Selain Listrik?
Selain listrik, biaya operasional lift juga mencakup perawatan berkala dan penggantian komponen tertentu dalam jangka panjang. Besarnya biaya akan bergantung pada jenis sistem lift yang digunakan.
Salah satu komponen yang umum adalah biaya AMC (Annual Maintenance Contract) atau kontrak servis tahunan. Layanan ini bersifat opsional, tetapi banyak dipilih untuk menjaga kondisi lift tetap optimal.
Pada lift screw-drive, kebutuhan penggantian komponen umumnya lebih jarang karena jumlah bagian yang bergerak lebih sedikit dibandingkan sistem traksi maupun hidrolik. Perawatan rutin juga membantu mengurangi risiko perbaikan dengan biaya yang lebih besar.
Simulasi Kasar Biaya Operasional dalam 10 Tahun Pemakaian

Jika mengacu pada estimasi biaya listrik sekitar Rp 320.000 per tahun, maka selama 10 tahun pemakaian total biaya listrik berkisar Rp 3,2 juta, belum termasuk biaya servis berkala apabila dipilih.
Sebagai perbandingan, lift traksi atau belt-drive umumnya memiliki kebutuhan perawatan lebih sering dan berpotensi memerlukan modernisasi pada tahun ke-8 hingga ke-10. Penggantian sabuk maupun komponen penggeraknya juga dapat menambah biaya operasional dalam jangka panjang.
Sebaliknya, lift screw-drive memiliki masa pakai hingga sekitar 30 tahun dengan garansi screw mencapai 10–15 tahun, sehingga biaya perawatannya cenderung lebih stabil.
Perlu diingat bahwa simulasi tersebut menggunakan tarif listrik golongan R2 Jakarta. Jika tarif listrik di wilayah Anda berbeda, hasil perhitungannya tentu akan menyesuaikan. Selain itu, frekuensi penggunaan lift setiap hari juga memengaruhi total konsumsi listrik, sehingga biaya operasional tiap rumah bisa saja berbeda.
Jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh, biaya operasional lift rumah premium tergolong cukup efisien. Dengan estimasi biaya listrik sekitar Rp 27.000 per bulan serta kebutuhan perawatan yang relatif sederhana, pemilik rumah dapat memperkirakan biaya penggunaan lift dengan lebih mudah sejak awal.
Artikel ini ditulis oleh Dery Firmansyah, Assistant Project Coordinator di Kalea Lift Indonesia.

Frequently Asked Questions
- Berapa biaya listrik lift rumah per bulan?
Berdasarkan simulasi pemakaian rata-rata, biaya listrik lift rumah screw-drive biasanya sekitar Rp 27.000 per bulan, meski angka ini bisa berbeda tergantung tarif listrik di masing-masing wilayah.
- Apakah lift rumah butuh servis rutin setiap bulan?
Tidak. Dibandingkan beberapa jenis lift rumah lainnya, lift rumah dengan sistem screw-drive memiliki kebutuhan perawatan yang relatif sederhana. Dalam kondisi penggunaan normal, servis berkala umumnya cukup dilakukan sebanyak satu hingga dua kali dalam setahun.
- Apakah biaya bulanan lift rumah lebih mahal dari AC rumah?
Tidak. Biaya operasional lift rumah screw-drive justru cenderung lebih rendah dibanding banyak peralatan elektronik rumah tangga lain yang menyala lebih lama, karena lift hanya aktif saat benar-benar digunakan.
- Apakah lift rumah screw-drive lebih hemat dari lift traksi?
Ya. Kebutuhan perawatan yang lebih jarang, ditambah dengan usia pakai komponen yang relatif panjang, membuat biaya operasional lift rumah screw-drive cenderung lebih ekonomis dalam jangka panjang. Dibandingkan dengan lift traksi, pemilik rumah dapat mengurangi frekuensi perawatan sekaligus menekan potensi biaya penggantian komponen utama.









